0.12
Terkumpul
Rp 120.000
Jompo Miskin Tinggal di Gubuk Hampir Ambruk
Di Posting: 05 Oktober 2020

Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang hampir rapuh termakan usia. Pintunya yang sudah lapuk. Gentingnya yang sering melorot ketika angin datang. Tiap hari Mbah Wati merasa takut gentingnya jatuh di kepala Mbah atau Ibunya.

0.12%
Terkumpul
Rp 120.000
Target
Rp 100.000.000
Waktu
32 hari lagi

Tiap Hujan dan Angin Kencang Nenek Ini Terus Menangis, Takut Genting Rumahnya Ambruk Jatuhi Kepalanya

Setiap orang pasti ingin hidup bahagia di masa tuanya apalagi bercengkrama bersama orang-orang tercinta di tempat yang nyaman.

Namun nasib berbeda dialami oleh Mbah Wati, ia tinggal bersama ibunya yang sudah senja di gubuk hampir ambruk berukuran 4 x 5 meter. 

Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang hampir rapuh termakan usia. Pintunya yang sudah lapuk. Gentingnya yang sering melorot ketika angin datang. Tiap hari Mbah Wati merasa takut gentingnya jatuh di kepala Mbah atau Ibunya. 

Mbah Wati kerap kali kehujanan, rumahnya menjadi genangan air dikarenakan atapnya yang sudah bocor dan bolong-bolong. Satu ruang hanya berisikan tempat tidur beralas kain tipis dan dipan kayu serta meja lapuk untuk menaruh barang-barang. 

Mbah juga tidak memiliki kamar mandi. Untuk buang air kecil dan besar hanya membuat lobang di depan halaman rumahnya ditutupi kain. 

Di dalam gubuknya juga tak beralas, hanya tanah yang diinjak. Tak terbayang kalau hujan turun, bagaimana kondisi rumahnya? seperti pinggir jalan yang terkena banjir. Sangat memprihatinkan.
Menurut Mbah Wati, jangankan mencari tempat tinggal yang layak, untuk makan setiap harinya saja susah. Terkadang mereka mengalami hal miris seperti itu menghirup udara saja sudah sangat bersyukur. 
 

Untuk makan sehari-hari, Mbah Wati membuat sapu lidi dengan tangannya yang memiliki kelainan yaitu (bengkok) kakinya juga mengecil. Lidi yang dibuat dijual dengan penghasilannya hanya 20-25 ribu per hari. Itupun jika ia berhasil mengumpulkan daun kelapa kering di kebun.
"makan sehari pakai nasi tanpa lauk aja saya sudah bersyukur banget sama ibu, saya nggak tahu bisa atau engga benerin rumah ini kalau dari hasil jual sapu lidi…” ungkap Mbah Wati sambil mengusap air mata di pipinya.

Ketika sedang membuat lidi, tangan Mbah sering terbakar karena gesekan dengan kayu yang sangat panas. Mbah hanya bisa menahan rasa sakit demi sesuap nasi yang dimakan bersama ibunya.

“Kalau hujan deras, saya cuma bisa duduk meringkuk nggak bisa tidur. Sambil liat wajah ibu. Saya takut mbak kalau lagi tidur terus anginnya kencang, khawatir genting jatuh ke kepala ibu. Apalagi bangunannya udah meleyot-leyot miring kayak mau rubuh. 

Rumah yang semestinya menjadi tempat ternyaman untuk berkumpul bersama keluarga kini menjadi tempat yang penuh kengerian. 

 

Sobat, Nenek Wati hanya satu dari puluhan dhuafa yang hidup di tempat tak layak. Apalagi ia juga harus menanggung hidup ibunya yang sudah lanjut usia. Ayo bantu untuk membangun kembali rumah nyaman untuk tempat berlindung

Belum ada update penyaluran dana
donasi sekarang