0.21
Terkumpul
Rp 103.000
Bu Misati Menahan Lapar Karena Pandemi
Di Posting: 10 Agustus 2021

Pandemi terus berjalan. Adanya PPKM semakin memanjang sehingga membuat tidak hanya kalangan perusahaan besar. Tapi pedagang kecil pun ikut terdampak makin keras. Bahkan harus menahan lapar.

0.21%
Terkumpul
Rp 103.000
Target
Rp 50.000.000
Waktu
10 hari lagi

“Sudah setahun ini jualan saya banyak gak lakunya. Keluarga saya sekarang susah makan. Apalagi setelah banyak pembatasan-pembatasan. Saya hanya bisa  berdo’a semoga hari ini kami tidak puasa lagi” - Bu Misati, Pedagang gorengan keliling

Gorengan, pisang goreng, ayo beli bapak ibu

Teriak Bu Misati menyusuri gang-gang pemukiman di Kota Denpasar. Menjajakan barang dagangannya pada warga yang mayoritas juga terdampak pandemi.

Ia adalah satu dari sekian banyak pedagang kecil yang berjuang untuk menyambung hidup hari demi hari. Namun hal itu terasa sangat sulit setelah aturan demi aturan pembatasan diberlakukan. 

Selama pandemi, penghasilan Bu Misati tidak lebh dari  Rp30.000, itu pun belum dipotong modal yang harus ia keluarkan. Tak jarang Bu Misati pulang dengan tangan kosong karena tidak ada pembeli sama sekali.. 

Saat pulang ke rumah dengan tangan hampa, Bu Misati hanya bisa menangis dan berdoa, sembari kebingungan bisakah mereka bertahan menyambung hidup hari ini. Sebab suami Bu Misati tak bisa lagi bekerja. Setelah pernah terjatuh dari lantai 3 ketika jadi kuli bangunan. 

Ya, Bu Misati harus menanggung hidup suami dan anaknya yang masih kecil. Tidak jarang Bu Misati mendapat teguran dari sekolah karena terlambat membayar uang SPP. 

Terkadang kaki Bu Misati sampai lecet karena berkeliling lebih jauh dari biasanya akibat sepi pembeli. Pinggangnya juga sering sakit karena memaksakan diri. Namun bila tak begini, keluarganya tak akan bisa makan. 

Sedih kalau ingat beras di rumah sudah habis tapi jualan nggak laku. Kadang rasanya pinggang mau copot, kaki saya lecet-lecet, perih.

Sering pula Bu Misati pulang setelah larut malam, ia takut pulang tak membawa hasil. Sampai setidaknya  ia mendapatkan uang modal jualan, barulah ia berani pulang ke rumah.

Untuk bertahan, terkadang Bu Misati juga diminta memilah botol plastik. Botol plastik ini kemudian dijual ke lapak pemulung dan hasilnya dibagi sebagai upah Bu Misati. 

Belum ada update penyaluran dana
donasi sekarang