Keluarga Cinta Qurban, Menjadikan Qurban Sebagai “Family Project”

Bantuan Kesehatan Adik Ibram, Penderita Infeksi Paru-Paru
July 26, 2017
Bolehkah Berqurban Satu Kambing dari Patungan Satu Keluarga ?
August 8, 2017
Show all

Sobat #berbagi, Kajian Cinta Keluarga, alhamdulillah telah dilaksanakan Sabtu kemarin (5/8) di Masjid Annur Denpasar. Kajian ini merupakan kajian rutin bulanan yang fokus pada tema keluarga. Kali ini tema kajian adalah “Keluarga Cinta Qurban, Meneladani Keluarga Ibrahim”.

Dalam moment qurban juga bisa dimanfaatkan sebagai moment perekat keluarga, dengan menjadikan qurban sebagai “family project”.

Ustadz asal Sapeken ini menekankan bahwa qurban merupakan ibadah yang tak hanya ibadah individual, namun bisa dilaksanakan berkelompok dengan syarat tertentu, misalnya patungan sapi 7 orang dan bahkan “patungan”kambing atas nama satu keluarga.

“Qurban dalam keluarga harus direncanakan jauh hari dan dimasukkan dalam Rencana Anggaran Belanja Keluarga tahunan. Qurban ini merupakan moment penting untuk keluarga sehingga jangan sampai terlewatkan. Jadikan Qurban sebagai ‘Family Project’ tahunan” jelas ustadz Nur Asyur saat kajian.

Sebagaimana Nabi Muhammad berkurban untuk satu keluarganya, sesuai hadits berikut,

“Aku pernah bertanya pada Ayyub Al Anshori, bagaimana qurban di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Beliau menjawab, “Seseorang biasa berqurban dengan seekor kambing (diniatkan) untuk dirinya dan satu keluarganya. Lalu mereka memakan qurban tersebut dan memberikan makan untuk yang lainnya.” (HR. Tirmidzi no. 1505, shahih)

Dalam Tuhfatul Ahwadzi disebutkan, “Hadits ini adalah dalil tegas bahwa satu kambing bisa digunakan untuk berqurban satu orang beserta keluarganya, walau jumlah anggota keluarga tersebut banyak. Inilah yang benar.”

 

Ibadah qurban merupakan bukti keimanan hamba terhadap Allah. Karena seperti yang dicontohkan oleh keluarga Ibrahim yang menjalankan perintah karena keimanan pada Allah untuk menyembelih Ismail, putra kesayangannya.
Beberapa hal yang dapat kita teladani dari keluarga Ismail adalah sikap teguh menjaga keyakinan dan keimanan serta saling percaya antar anggota keluarga.

Misalnya saja saat Siti Hajar dan Ismail ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di padang tandus. Selama bertahun-tahun Siti Hajar selalu menceritakan sosok Ayah yang baik dan bijak. Hal positif selalu diceritakan Siti Hajar sebagai seorang Ibu pada Ismail tentang sosok ayah Ibrahim yang baik.

Sang Ibu tak pernah mengeluh dan bercerita negatif soal Ayah yang meskipun manusia tetap ada kekurangannya. Sehingga Ismail tumbuh dengan karakter Ibrahim meski tak dibersamai langsung oleh ayahnya. Ketika Allah mempertemukan Ibrahim dan Ismail yang sejak bayi terpisah, hubungan ayah dan anak ini luar biasa terjalin baik berlandaskan keimanan dan kebersamaan dalam keluarga.

Sikap seperti inilah yang harus kita tumbuhkan di keluarga kita, saling percaya, mendukung dan berkorban untuk keluarga dan agama karena keimanan. Dengan teladan keluarga Ibrahim, diharapkan kita menjadi keluarga yang cinta qurban yang menumbuhkan keimanan sebagai dasar pembinaan dalam keluarga.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *